RSS

Monthly Archives: September 2013

7 Deadly Sins

Salah satu adegan dalam Ambisi, Adiksi – masuk 20 besar kompetisi Gagasmedia 2013

Bayu menghela nafas panjang setelah membaca tulisanku. Ia mendelik lalu menggeleng. Laptop diserahkan padaku dan ia berjalan menuju meja bar. “Sorry Nay, tapi gue nggak suka.” Bayu menyendok green tea cheese cake yang ia beli di Swarna sebelum akhirnya menulis di rumahku. Tak lama ia membawakanku matcha latte yang juga dari Swarna. Katanya, ia yakin bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan green tea adalah favoritku.

“Sasy mabuk dan lalu mereka nggak sengaja ML. Justru di saat Sasy berusaha berpaling dari Oka.” Semenjak tahu aku mengenal Rafa, Bayu memutuskan untuk mengganti Rama menjadi Oka. Alasannya takut khayalku terdistraksi oleh Rafa. Ia duduk sambil melipat tangan di sebelahku. “Tapi menurut gue, itu ketebak dan keburu klimaks, padahal Sasy belum jatuh cinta banget sama pria bar.”

Aku menggigit bibir bagian dalam. Sayangnya, Bayu terlanjur sadar akan perubahan bodoh di wajahku. Ia memaksaku menyuap sendokan green tea cheese cake lalu mengacak rambutku.

“If she’s crazy about one but only look warm about the other,  where is the triangle? But if she feels equally strong about both man, that’s the real dilemma.”

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Seperti menangkap boomerang. “Lo inget adegan Jemmy ngajak nonton dan makan malam? Sasy nggak hanya hangat sama Jemmy.”

“Tapi Nay, gue rasa terlalu tolol kalau Oka mencari kesempatan saat egonya terluka melihat ban cadangannya mulai kabur. Sebagai seorang pria, dia seharusnya tahu konsekuensinya terlalu besar. Persahabatan mereka.”

Aku mengedikkan bahu. “Bisa aja kan Oka mengaku cinta sama Sasy? Men use love to get sex. Women use sex to get love. Cowok kan hanya menganggap cewek itu objek kan?” Entahlah, aku merasa jengah disudutkan dengan berbagai alasan.

Bayu menatapku dan tertawa hambar. “Melebar, nona. Gini deh, kami memang makhluk visual. Tapi menurut gue, nggak berarti semua cowok menganggap cewek sebagai objek. Cewek dan cowok itu sama-sama subjek pelaku seks. Ya objeknya seks dong.”

Aku memasang wajah tak tertarik dan mengibaskan tangan. “Oke, oke, oke. Adegan itu gue hapus dan gue tulis ulang dengan cerita berbeda. Case closed?”

Bayu berdiri dan mengambil kunci mobilnya. “Can I ask you something?”

Aku mengangguk pelan.

“If I say I love you, would you think that I use it to get laid?”

Aku menelan ludah sebelum menjawabnya. Simalakama.“Mungkin.”

Alis Bayu berjengit lalu menatapku. “Pertanyaan dibalik. We are having sex. You use it to get my love, eh?”

Aku menggeleng cepat. “We used to.”

Bayu tersenyum penuh arti padaku. “Gue cabut ya Nay. Dira tiba-tiba ngajak ketemu.”  Ia berlalu tanpa menunggu tanggapanku. Aku termangu melihatnya menghilang dari balik pintu.

Apa jawabanku salah dan membuatnya tersinggung?

Atau memang, karena yang memintanya untuk pergi adalah Dira.

Sepertinya Dira.

 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2013 in Uncategorized