RSS
Aside

Bahasa lebaynya : Hidup saya mungkin tidak semudah orang seumuran saya.

(Walaupun pasti di luar sana, ada yg sama atau justru lebih susah dari saya)

Bahasa agak bijaknya : Saya yg manja dan rapuh, dipersiapkan dan ditempa sedemikian rupa dgn cara2 yg tidak saya sadari, oleh Tuhan, Papa, dan Mama hingga tahun ini tiba.

Mulai darimana? Saya akan selalu bilang, Agustus 2008. Dan klimaksnya Maret 2014.

Hari itu tidak ada derai air mata. Mungkin hanya mata berkaca-kaca. Semua orang bilang, saya kuat.

Saya bilang pada diri saya sendiri, saya tidak punya hati. Saya takut, saya mati rasa.

Mungkin baru 3 minggu kemudian saya menangis, ini pun tidak lama. Saya rasa, saya memaksa diri saya menangis saat PMS.

(sangaaaat) Banyak hal bodoh yang saya lakukan dalam 9,5 bulan setelah itu.

Dan Januari mendekat. Tahun baru saya menghindar dari rumah. Menghindar dari kesendirian. Mama suka menonton kembang api dari jauh.

Januari sudah tiba. Bulan ini milik Mama, bulan kelahirannya.

Dan saya sadar. Mungkin sekilas saya tampak baik-baik saja. Tapi peta kehidupan saya terobek, dan saya tak tahu harus melangkah kemana.

Saya tanpa sadar menghindar dari kerabat2 lama. Malas harus menceritakan kabar saya semenjak kami tak bertemu.

Saya berusaha menghindar dari rasa sedih, lemah, kehilangan, rasa bersalah, atau pandangan iba dari orang.

Saya salah langkah.
Ketika orang lain terjatuh ke suatu lubang dalam dan terlilit tali, mereka akan melepaskan diri dari tali lalu berusaha keluar. Saya justru duduk tenang di lubang itu, hingga tertidur.

Saya tahu, mereka tidak mau melihat saya seperti ini. Saya tahu, di sana jauuh lebih menyenangkan, dan hal bodoh mengganggu ketenangan mereka dengan keluh kesah saya.

Jadi, sepertinya salah satu resolusi saya tahun 2015: Membuat mereka bangga dengan saya, entah bagaimana caranya. Hal yg tak pernah saya lakukan sejak 2008

Relationship between Ms. Denial and 2014

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2015 in Uncategorized

 

7814

bangun tidur dapet berita besaaaar. AAAAAK! 😀 Semogaaaaa yg terbaik, selalu dalam lindungan Tuhan. two lines

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2014 in Uncategorized

 

6814 Gratitude(s)

1. langitnya terang, bintangnya keliataaan

2. studi banding lagi, bapak kubikel sebelah mengundang memori gue terputar ke fase susah itu

3. belajar ga lari-larian. walaupun masih lari dari hal yg paling gede.

 
Leave a comment

Posted by on August 6, 2014 in Uncategorized

 

Gratitude(s) 4814

1. Sms yg datangnya out of nowhere, info tentang sesuatu yg emang perlu gue ketahui. 

2. Minta contoh objek untuk studi banding. dan langsung dikasi. sayangnya, ga bisa bantu, hanya bisa bantu lewat doa.

3. tiny little lesson about sincerity.

Anda penuh misteri, Tuhan. Terimakasih.

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2014 in Uncategorized

 

030814

GRATITUDE(S) :

short dialog with cab driver 🙂 

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2014 in Uncategorized

 

Find the last Rhyme

Malam membisik mimpi, mengikis ambisi. Lalu perlahan garis waktu mengulur rasa. Kosong. Datar. Naik. Membuncah. Kembali kosong.

 

22 april 2013

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2014 in Uncategorized

 

7 Deadly Sins

Salah satu adegan dalam Ambisi, Adiksi – masuk 20 besar kompetisi Gagasmedia 2013

Bayu menghela nafas panjang setelah membaca tulisanku. Ia mendelik lalu menggeleng. Laptop diserahkan padaku dan ia berjalan menuju meja bar. “Sorry Nay, tapi gue nggak suka.” Bayu menyendok green tea cheese cake yang ia beli di Swarna sebelum akhirnya menulis di rumahku. Tak lama ia membawakanku matcha latte yang juga dari Swarna. Katanya, ia yakin bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan green tea adalah favoritku.

“Sasy mabuk dan lalu mereka nggak sengaja ML. Justru di saat Sasy berusaha berpaling dari Oka.” Semenjak tahu aku mengenal Rafa, Bayu memutuskan untuk mengganti Rama menjadi Oka. Alasannya takut khayalku terdistraksi oleh Rafa. Ia duduk sambil melipat tangan di sebelahku. “Tapi menurut gue, itu ketebak dan keburu klimaks, padahal Sasy belum jatuh cinta banget sama pria bar.”

Aku menggigit bibir bagian dalam. Sayangnya, Bayu terlanjur sadar akan perubahan bodoh di wajahku. Ia memaksaku menyuap sendokan green tea cheese cake lalu mengacak rambutku.

“If she’s crazy about one but only look warm about the other,  where is the triangle? But if she feels equally strong about both man, that’s the real dilemma.”

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Seperti menangkap boomerang. “Lo inget adegan Jemmy ngajak nonton dan makan malam? Sasy nggak hanya hangat sama Jemmy.”

“Tapi Nay, gue rasa terlalu tolol kalau Oka mencari kesempatan saat egonya terluka melihat ban cadangannya mulai kabur. Sebagai seorang pria, dia seharusnya tahu konsekuensinya terlalu besar. Persahabatan mereka.”

Aku mengedikkan bahu. “Bisa aja kan Oka mengaku cinta sama Sasy? Men use love to get sex. Women use sex to get love. Cowok kan hanya menganggap cewek itu objek kan?” Entahlah, aku merasa jengah disudutkan dengan berbagai alasan.

Bayu menatapku dan tertawa hambar. “Melebar, nona. Gini deh, kami memang makhluk visual. Tapi menurut gue, nggak berarti semua cowok menganggap cewek sebagai objek. Cewek dan cowok itu sama-sama subjek pelaku seks. Ya objeknya seks dong.”

Aku memasang wajah tak tertarik dan mengibaskan tangan. “Oke, oke, oke. Adegan itu gue hapus dan gue tulis ulang dengan cerita berbeda. Case closed?”

Bayu berdiri dan mengambil kunci mobilnya. “Can I ask you something?”

Aku mengangguk pelan.

“If I say I love you, would you think that I use it to get laid?”

Aku menelan ludah sebelum menjawabnya. Simalakama.“Mungkin.”

Alis Bayu berjengit lalu menatapku. “Pertanyaan dibalik. We are having sex. You use it to get my love, eh?”

Aku menggeleng cepat. “We used to.”

Bayu tersenyum penuh arti padaku. “Gue cabut ya Nay. Dira tiba-tiba ngajak ketemu.”  Ia berlalu tanpa menunggu tanggapanku. Aku termangu melihatnya menghilang dari balik pintu.

Apa jawabanku salah dan membuatnya tersinggung?

Atau memang, karena yang memintanya untuk pergi adalah Dira.

Sepertinya Dira.

 
Leave a comment

Posted by on September 21, 2013 in Uncategorized